Indahnya hidup ini untuk dihayati...Jika semalam kita gagal, biarlah kita bermula lagi pada hari ini...
Never Ever Give Up because God Never Give up on Us!!!

Bab 1

MANUSIA MEMAHAMI ALLAH

3. Mengapa kita mencari Allah?
Allah telah menaruh ke dalam hati kita, keinginan untuk mencari dan menemukan-Nya. Santo Agustinus berkata: "Engkau telah mencipta kami bagi Diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirehat di dalam Engkau." Kita sebut kerinduan akan Allah ini sebagai AGAMA. [27-30]

Kodrat manusia adalah mencari Allah. Seluruh usaha kita untuk memperoleh kebenaran dan kebahagiaan adalah pencarian mutlak kepada Pribadi yang mendukung kita sepenuhnya, yang memuaskan kita sepenuhnya, dan yang memperkerjakan kita sepenuhnya dalam pelayanan-Nya. Seorang manusia tidak akan pernah lengkap sampai ia menemukan Allah. "Setiap orang yang mencari kebenaran, pastilah mencari Allah, entah disadari entah tidak." (Santa Edith Stein). => 5,281-285

4. Dapatkah kita memahami keberadaan Allah dengan akal budi kita?
Ya, akal budi manusia dapat memahami Allah dengan pasti. [31-36,44-47]

Dunia tidak memiliki hakikat dan tujuan dari dalam dirinya sendiri. Dalam semua hal, ada sesuatu yang lebih daripada yang kita lihat. Keteraturan, keindahan, perkembangan dunia mengarah pada apa yang melebihi dunia itu sendiri, yaitu ALLAH. Setiap manusia mengakui apa yang benar, baik dan indah. Manusia mendengarkan hati nurani yang mendesak untuk mengarahkan pada yang baik dan memperingatkan dia untuk melawan apa yang jahat. Setiap orang yang mengikuti jalan ini akan menemukan Allah.

5. Mengapa manusia menyangkal keberadaan Allah jika dapat mengetahui-Nya dengan akal budi?
Mengenal Allah yang tak tampak menjadi tentangan besar bagi fikiran manusia. Hal ini kadang menakutkan. Ada alasan lain mengapa manusia tidak ingin mengetahui Allah: jika manusia mengetahui Allah, ia harus mengubah hidupnya. Mereka yang mengatakan bahawa pertanyaan tentang Allah itu tidak bermakna kerana tidak bisa dijawab akan menggampangkan segala hal bagi diri-Nya. (37-38) => 357

6. Dapatkah kita memahami Allah secara keseluruhan di dalam konsep manusia? Mampukah kita membicarakan Allah dengan penuh makna?
Manusia terbatas, sedangkan kebesaran Allah yang tak terbatas tidak pernah bisa pas dengan konsep fikiran manusia yang terbatas. Namun, manusia tetap bisa bicara tentang Allah dalam bahasa analogis. [39-43,48]

Untuk mengungkapkan sesuatu tentang Allah, kita menggunakan gambaran-gambaran yang tak sempurna serta pengertian yang terbatas sehingga apa pun yang kita katakan tentang Allah tidak setara dengan keagungan Allah. Oleh kerana itu, kita harus terus-menerus memurnikan dan memperbaiki ungkapan kita mengenai Allah.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan