Indahnya hidup ini untuk dihayati...Jika semalam kita gagal, biarlah kita bermula lagi pada hari ini...
Never Ever Give Up because God Never Give up on Us!!!

Bab 2

ALLAH MENDEKATI KITA MANUSIA

7. Mengapa Allah harus menunjukkan Diri-Nya?
Menggunakan akal budi, manusia dapat mengetahui bahawa Allah itu ada, namun bukan pengetahuan tentang Allah yang senyatanya. Karena Allah sangat mencintai manusia, maka Dia menyingkapkan Diri-Nya. [50-53,68-59]

Allah tidak harus menyingkapkan diri kepada kita. Tapi, Dia melakukannya - kerana KASIH. Demikian juga dengan kita. Kita dapat mengenali pribadi yang kita kasihi hanya jika ia membuka hatinya untuk kita, demikian juga, kita tahu sesuatu tentang Allah-pemikiran terdalam Allah-hanya jika Allah yang abadi dan misteri itu membuka diri-Nya untuk kita. Sejak penciptaan, melalui para bapa bangsa dan para nabi, sampai turunnya => WAHYU yang paripurna dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Di dalam Putra-Nya, Allah mencurahkan hati-Nya dan membuat Kristus nyata tampak bagi kita.

8. Bagaimana Allah mewahyukan Diri-Nya dalam Perjanjian Lama?
Allah mewahyukan Diri-Nya dalam =>PERJANJIAN LAMA sebagai Allah yang menciptakan dunia atas dasar cinta kasih dan yang tetap setia kepada manusia, bahkan ketika manusia menjauhkan diri Dari saat jatuh ke dalam dosa. [54-64,70-72]

Allah menghendaki agar manusia mengalami Dia dalam sejarah. Dengan Nabi Nuh, Allah membuat perjanjian untuk menyelamatkan semua yang hidup. Allah memanggil Abraham dan membuatnya menjadi "Bapa dari banyak bangsa" (Kej 17:5) dan memberkati "seluruh keluarga di bumi" dalam dia (Kej 12:3). Bangsa Israel adalah keturunan Abraham, dan menjadi milik-Nya yang istimewa. Kepada Musa, Allah memperkenalkan diri menggunakan nama "YHWH"; biasanya diganti huruf =>YAHWEH, yang berarti "AKU ADALAH AKU" (Kel 3:14). Allah membebaskan Israel dari perbudakan di Mesir, membuat perjanjian di Gunung Sinai, dan melalui Musa, Ia memberi mereka HUKUM. Lagi dan lagi, Allah mengirim para nabi untuk memanggil manusia kepada pertobatan dan pembaruan perjanjian. Para nabi mewartakan bahawa Allah akan membuat perjanjian baru dan kekal, yang akan membawa pembaruan radikal dan penebusan yang paripurna. Perjanjian baru itu akan terbuka bagi seluruh umat manusia.

9. Apa yang Allah tunjukkan tentang Diri-Nya ketika Ia mengutus Putra-Nya bagi kita?
Allah menunjukkan kepada kita, dalam Yesus Kristus, kedalaman cinta-Nya yang penuh belas kasih. [65-66,73]

Melalui Yesus Kristus, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan. Dia menjadi manusia seperti kita. Hal ini menunjukkan pada kita, betapa dalam cinta-Nya. Dia menanggung seluruh beban kita. Dia mengiringi setiap langkah kita. Dia mendampingi ketika kita ditinggalkan, ketika kita menderita, ketika kita takut menghadapi kematian. Dia juga mendampingi ketika kita tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Dia akan membukakan pintu bagi kita menuju pada kehidupan.

10. Dengan kedatangan Yesus Kristus apakah semuanya telah diwartakan, atau apakah perwahyuan terus berlanjut setelah Dia?
Dalam Yesus Kristus, Allah sendiri hadir di dunia. Yesus adalah sabda terakhir Allah. Dengan mendengarkan Dia, seluruh umat manusia dari segala zaman, dapat mengenal siapa Allah dan mengetahui apa yang perlu bagi keselamatan mereka. [66-67]

Dalam Yesus Kristus => WAHYU Allah sudah lengkap dan sempurna. Untuk membuat wahyu dapat kita fahami, Roh Kudus membimbing kita lebih masuk lagi ke dalam kebenaran. Cahaya Allah menerangi dengan sangat kuat ke dalam hidup banyak peribadi sehingga mereka "melihat langit terbuka" (Kis 7:56). Namun, perwahyuan peribadi"tidak menambahkan hal baru pada wahyu sempurna, Yesus Kristus. Kita tidak diwajibkan untuk mempercayai penampakan-penampakan atau wahyu-wahyu pribadi, tetapi wahyu-wahyu pribadi itu bisa membantu kita untuk mengetahui wahyu sempurna secara lebih baik. Kebenaran wahyu-wahyu pribadi itu telah diuji oleh => GEREJA.

11. Mengapa kita menyebarkan iman?
Kita menyebarkan iman karena perintah Yesus pada kita: "...pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku..." (Mat28:19).[91]

Orang Kristen sejati tidak akan menyerahkan tanggungjawab penyebaran iman hanya kepada orang-orang tertentu (guru agama, pastor, misionaris). Kita semua menjadi "kristus" bagi orang lain. Ini berarti, setiap orang Kristen sejati menginginkan agar Allah hadir bagi orang lain juga. Dia berkata pada dirinya sendiri: "Tuhan memerlukan aku! Aku telah dibaptis dan menerima Sakramen Penguatan, maka aku bertanggungjawab untuk menolong orang-orang di sekitarku supaya belajar mengenai Allah dan supaya 'mereka memperoleh pengetahuan akan kebenaran.' "(1Tim2:4). Bunda Teresa menggunakan perbandingan yang bagus:"Sering kamu lihat lampu-lampu kecil di jalan yang dialiri listrik untuk memandu para pengendara. Jika listrik tidak mengalir, maka lampu-lampu itu mati. Lampu itu adalah aku dan kamu. Aliran listriknya adalah Allah! Kita bisa membiarkan Allah mengalirkan listrik melalui kita untuk memancarkan Sang Cahaya Dunia: YESUS - atau kita memilih untuk menolak menjadi alat-Nya dan membiarkan kegelapan menyebar." =>123

12. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita menghayati iman yang sejati?
Iman yang sejati adalah iman yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Gereja yang hidup. [76,80-82,85-87,97,100]

PERJANJIAN BARU berkembang dari iman Gereja. Kitab Suci dan Tradisi beriringan satu sama lain. Awalnya, penerusan iman tidak terjadi melalui tulisan-tulisan. Pada masa Gereja Perdana, dikatakan bahawa Kitab Suci "ditulis di hati Gereja bukan di atas kertas perkamen." Para murid dan => PARA RASUL mengalami hidup baru dengan menghayati persekutuan yang nyata dengan Yesus. Gereja Perdana mengundang orang ke dalam persekutuan, yang dilanjutkan dengan cara yang berbeda setelah kebangkitan Kristus. Umat Kristen awal bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan. Mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Kis2:42). Mereka bersekutu dan saling berbagi. Inilah bagian dari iman kita sampai saat ini: orang Kristen mengundang orang lain untuk datang dalam persekutuan agar mengenal persekutuan dengan Allah yang telah dipelihara secara berkelanjutan sejak masa para rasul dalam Gereja Katolik.

13. Dapatkah Gereja salah dalam hal iman?
Umat beriman sebagai keseluruhan tidak bisa salah dalam hal iman kerana Yesus mengutus Roh Kebenaran dan menjaga mereka berada dalam kebenaran (Yoh14:17). [80-82,85-87, 92,100]

Sama seperti para murid mengimani Yesus dengan sepenuh hati, seorang Kristen juga bisa mempercayakan diri sepenuhnya kepada Gereja ketika ia bertanya mengenai jalan hidup. Sejak Yesus Kristus mengutus para murid-Nya untuk mengajar, maka pengganti para rasul (para uskup) memiliki kuasa untuk mengajar (MAGISTERIUM). Meskipun anggota-anggota Gereja secara personal bisa salah, dan bahkan bisa membuat kesalahan serius, namun Gereka sebagai keseluruhan tidak bisa sesat dari kebenaran Allah. Gereja terus-menerus dari zaman ke zaman membawa kebenaran iman yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Kita berbicara mengenai warisan iman yang dipelihara. Jika kebenaran iman itu diperdebatkan atau diselewengkan oleh beberapa anggotanya, Gereja terpanggil untuk menjelaskan lagi "apa yang selama ini selalu, dan telah diimani oleh seluruh Gereja di mana pun." (Santo Vinsensius dari Lerins, 450).

14. Apakah Kitab Suci benar? 
Kitab Suci dengan teguh, setia, dan tanpa kesalahan, mengajarkan kebenaran. ...Ditulis dengan ilham Roh Kudus, Kitab Suci mempunyai Allah sebagai pengarangnya. (Konsili Vatikan II,DV) [103-107]

KITAB SUCI tidak jatuh dari surga dalam bentuknya yang sudah jadi, ataupun bahwa Allah mendiktekan kata-kata-Nya kepada penulis manusia yang lalu menyalinnya. Namun, "Allah memilih orang-orang yang digunakan sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri supaya -sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri supaya - sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka - semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh. (Konsili Vatikan II, DV 11). Faktor yang digunakan untuk mengakui bagian-bagian teks sebagai Kitab Suci adalah penerimaan umum Gereja atas teks-teks itu. Dalam komunitas Kriten, ada kesepakatan: "Ya, melalui teks ini Allah sendiri berbicara kepada kita-teks ini diilhami oleh Roh Kudus!"Tulisan-tulisan Kristen asli yang sungguh-sungguh diilhami oleh Roh Kudus telah ditetapkan sejak abad ke-4 menjadi Kitab Suci. Itulah yang kemudian disebut => KANON KITAB SUCI. Seterusnya...


Tiada ulasan:

Catat Ulasan