20. Bagaimana kita bisa menanggapi Allah ketika Ia berbicara pada kita?
Menanggapi Allah berarti mengimani-Nya. [142-149]
Siapapun yang ingin percaya, memerlukan hati yang siap untuk mendengarkan (lih. 1Raj3:9). Dengan berbagai cara, Allah menghubungi kita. Dalam setiap perjumpaan manusiawi, dalam setiap pergerakan alam, dalam setiap kejadian kebetulan, dalam setiap tantangan, dalam setiap penderitaan, ada pesan tersembunyi dari Allah untuk kita. Bahkan, Allah berbicara dengan lebih jelas ketika Ia berpaling kepada kita dalam Sabda-Nya atau dalam suara hati kita. Dia menyapa kita sebagai sahabat. Oleh karena itu, seharusnyalah kita menanggapi Dia sebagai sahabat, mengimani dan mempercayai Dia sepenuhya, belajar memahami Dia dengan lebih baik, serta menerima kehendak-Nya tanpa syarat.
21. Iman - apakah itu?
Iman memiliki 7 ciri:
- Iman adalah suatu rahmat cuma-cuma yang kita terima saat kita dengan sungguh-sungguh memohonkannya.
- Iman merupakan kekuatan adikodrati yang mutlak diperlukan jika kita ingin mencapai keselamatan.
- Iman menuntut kehendak bebas dan pemahaman yang jelas dari seseorang ketika menerima undangan Ilahi.
- Iman merupakan kepastian yang mutlak karena Yesus yang menjaminnya.
- Iman tidaklah sempurna kecuali jika mengarah pada cinta kasih yang aktif.
- Iman bertumbuh saat kita semakin cermat mendengarkan Sabda Tuhan dan memasuki hubungan yang khusyuk dengan Dia dalam doa.
- Iman memberi kita kesempatan untuk mencicipi kegembiraan surgawi.
[153-165, 179-180, 183-184]
Banyak orang mengatakan bahwa percaya saja tidak cukup; mereka juga ingin mengetahui apa yang mereka percayai. Kata "percaya" memiliki dua arti yang berbeda sama sekali. Jika seorang penerjun payung bertanya kepada seorang juru ketik di bandara: "Apakah parasutnya telah dilipat dan dimuat dengan aman?" dan juru ketik itu menjawab:"Hmm, saya percaya saja," maka jawaban itu tidaklah cukup baginya untuk percaya. Ia harus tahu dan memastikan semuanya beres. Tapi jika penerjun payung itu meminta seorang kawannnya untuk melipatkan payungnya, lalu kawannya menjawab:"Ya, aku lipat sendiri, percayalah padaku," maka penerjun payung itu akan menjawab: "Ya, aku percaya kepadamu". Kepercayaan jenis kedua ini lebih dari sekadar mengetahui; karena merupakan jaminan. Itulah jenis kepercayaan yang meminta Abraham pergi ke Tanah Terjanji. Inilah iman yang membuat => PARA MARTIR berdiri teguh sampai wafat; itulah iman yang sampai kini masih menjadi pegangan umat Kristen yang mengalami penganiayaan; iman yang hidup dalam seluruh diri.
22. Bagaimana orang berproses dengan imannya?
Orang yang beriman mencari kesatuan pribadi dengan Allah, dan siap mempercayai Allah dalam segala hal yang Dia tunjukkan (wahyukan) mengenai Diri-Nya.[150-152]
Saat mulai beriman, sering kali orang merasakan bahwa dunia yang tampak dan pembicaraan mengenai setiap hal terasa tidak sesuai dengan hasrat imannya. Ia merasa disentuh oleh suatu misteri, mengikuti jejak yang mengarah pada keberadaan Allah, dan perlahan-lahan menemukan rasa percaya dirinya untuk berbicara kepada Allah, dan akhirnya mempersatukan diri dengan Allah dalam kebebasan. Dalam Injil Yohanes, dikatakan: "Tidak seorang pun pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah yang di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (Yoh1:18). Itulah alasan mengapa kita harus mengimani Yesus, Putra Allah, jika kita ingin mengetahui siapakah Allah yang ingin berkomunikasi dengan kita. Beriman berarti menerima Yesus dan mempertaruhkan keseluruhan hidup kepada-Nya.
23. Apakah iman dan ilmu pengetahuan bertentangan?
Tidak. Iman dan akal budi tidak bertentangan karena tidak mungkin ada dua macam kebenaran. [159]
Tidak ada kebenaran iman yang bertanding dengan kebenaran ilmu pengetahuan. Hanya ada satu kebenaran, baik yang merujuk pada alasan ilmu pengetahuan maupun iman. Allah menghendaki
Tiada ulasan:
Catat Ulasan